Selasa, 14 Februari 2012

Pengertian ayam



Ayam adalah satu jenis binatang yang mudah ditemukan. Di banyak tempat, tidak hanya di Yogya, kiranyanya di kota-kota lain bisa juga ditemukan. Apalagi jenis ayam potong, bisa dikatakan, hampir di semua tempat di wilayah Indonesia mudah sekali ditemukan.

Orang sering membedakan antar jenis ayam. Setidaknya dikenal dua jenis kategori, ialah ayam potong dan ayam kampung. Kata kampung ini, untuk di Yogya sering diidentikan dengan ayam Jawa. Sehingga, tidak jarang sering terdengar perkataan: Ini ayam Jawa atau ayam potong?

Dari segi jenis kelamin, orang mengenal ayam betina dan ayam jantan. Yang betina sering disebut sebagai ayam babon (Jawa). Yang jantan sering disebut ayam jago (Jawa).

Khusus pada ayam jago masih bisa dilihat dari “alirah darah” mana ayam jago itu berasal, sehingga ada bermacam jenis sebutan ayam jago, misalnya ayam (jago) Bangkok dst. Ayam jago ada yang berfungsi untuk aduan, tapi ada juga yang tidak sekedar untuk dipelihara dan untuk “menemani” ayam betina.

Di Yogya khususnya dan di Jawa umumnya, mungkin juga ditempat-tempat lain, kiranya mudah sekali ditemukan kelompok orang yang gemar akan adu ayam. Rupanya, adu ayam ini sekaligus untuk judi. Artinya, orang yang terlibat adu ayam, baik pemilik ayam jago atau pemain, semua bertaruh untuk memilih salah satu ayam jagonya keluar sebagai pemenang. Pendeknya, masing-masing pemain memiliki “jagonya” sendiri, dan masing-masing saling berharap sekaligus yakin, “jagonya” akan menang.

Itulah ayam jago yang difungsikan sebagai aduan. Tampaknya, kreativitas orang untuk menggunakan makhluk hidup seperti ayam jago tidak melihat, kalau dalam bahasa manusia, “perasaan”. Barangkali orang sudah mempunyai anggapan (dan keyakinan) bahwa ayam (binatang) tidak memiliki perasaan, karena itu pendekatannya juga tidak dengan perasaan.

Namun biasnya, pemilik ayam jago aduan, mempunyai kecintaan merawat ayam jagonya. Merawat yang utama bukan untuk menjaga kelangsungan hidup ayam jagonya, tetapi lebih untuk “mempersiapkan” ayam jago tersebut masuk dalam arena pertarungan. Jadi, perawatan yang dilakukan lebih untuk mempersiapkan ayam jago masuk dalam proses “penderitaan”.

Ayam jago dan juga ayam pada umumnya, tidak memiliki daya terhadap dirinya sendiri, utamanya ketika berhubungan dengan manusia. Oleh manusia, kalau tidak dipakai aduan, khusus untuk ayam jago, bisa dipotong atau kalau tidak dijual (dan juga kemudian di potong).

Di Yogya, masih mudah ditemukan ayam kampung dan juga tidak sulit menemukan orang mengadu ayam. Meski sering ada razia adu ayam yang dilakukan oleh polisi, tetapi selalu saja orang terus melakukan dengan sembunyi-sembunyi. Dan ayam, nasibnya tidak berubah, diperdaya oleh manusia.

Tetapi memang, makan sate ayam enak rasanya, apalagi ayam kampung. Itulah soalnya, ayam (kampung) selalu saja dicari untuk “dinikmati”.

source : tembi.org


1. unggas yg pd umumnya tidak dapat terbang, dapat dijinakkan dan dipelihara, berjengger, yg jantan berkokok dan bertaji, sedangkan yg betina berkotek;
-- bertelur di padi, pb hidup senang dan mewah; -- ditambat disambar elang, pb malang sekali; bernasib buruk; -- hitam terbang malam, pb sukar ketahuan (tt perkara dsb); -- itik raja pd tempatnya, pb setiap orang berkuasa di tempatnya atau di lingkungannya; -- putih terbang siang, pb mudah ketahuan (tt perkara dsb);
-- aduan ayam jantan yg dipiara untuk diadu; ayam sabungan; -- alas ayam hutan; -- bakaran ayam jantan dan betina, biasanya dr bangsa yg cepat pertumbuhannya, berumur kurang dr sepuluh minggu, cocok untuk dibakar (tidak terlalu keras); -- belanda kalkun; -- beroga ayam jantan, Callus ferrugineus; -- biang ayam betina yg hampir bertelur; -- buras ayam bukan ras, ayam kampung yg diternakkan; -- cemani ayam selasih; -- cenangkas ayam sabungan yg berbulu putih dng kaki berwarna kuning; -- dara ayam betina yg berumur antara 3—4 bulan; -- dwiguna ayam yg diambil daging dan telurnya sbg hasil produksi; -- ekaguna ayam yg hasil produksinya hanya telur atau daging; -- galur ayam unggul hasil penyilangan; -- gorengan ayam yg masih muda, biasanya berumur kurang dr sepuluh minggu, cocok untuk digoreng (tidak terlalu keras) ; -- gulai 1 ayam tua berumur lebih dr satu tahun; 2 daging ayam yg digulai; -- hutan ayam liar yg hidup di hutan (biasanya lebih gesit dp ayam kampung); -- itik segala bangsa unggas yg dipiara orang (spt ayam, itik, angsa); -- kampung ayam yg secara alami berasal dr daerah tertentu yg dipiara orang (lawan ayam negeri, ayam ras); -- katik jenis ayam kecil; -- kebiri ayam jantan yg dikebiri; -- kedu ayam yg berasal dr Kedu (Jawa Tengah), bulu dan kakinya berwarna hitam, betinanya dapat bertelur selama dua bulan terus-menerus; -- koci ayam yg besar, kakinya berbulu; -- leghorn ayam petelur yg badannya kecil, tetapi telurnya besar; -- lokal ayam kampung; -- mutiara ayam kalkun yg bulunya berbintik-bintik putih; -- negeri jenis ayam berasal dr luar negeri dan dipiara secara khusus; -- palean ayam yg dipiara baik-baik; -- panggang masakan dr ayam yg dipanggang; -- pedaging ayam yg dipiara secara khusus sbg penghasil daging; -- pelesung pemuda yg biasa datang ke rumah orang tua yg beranak gadis; -- pelung ayam jantan yg mampu bersuara indah dan panjang (sering diperlombakan di Jawa Barat); -- peranggang ayam yg cepat pertumbuhannya, biasanya sudah siap disembelih pd umur antara 3—5 bulan (tidak terlalu muda); -- petelur ayam yg dipiara secara khusus sbg penghasil telur; -- potong ayam yg dipiara untuk disembelih; -- potong bersih ayam potong yg sudah bersih tanpa jeroan, kaki, leher, dan kepala, siap untuk dimasak; -- pungguk ayam yg tidak berekor; -- pupuh ayam sabung yg tidak bertaji; -- ras ayam kampung; -- sabung(an) ayam jantan yg biasa disabung; ayam aduan; -- sayur ayam yg biasa dipiara secara dilepaskan; -- selasih ayam yg warna bulu, tulang, dan dagingnya hitam; -- sulah ayam yg kepala dan lehernya tidak berbulu; -- tambatan ki abdi yg sudah tua; -- tedung ayam sabungan yg merah tua warna bulunya, hitam warna mata dan kakinya;
ayam-ayam n 1 tiruan ayam (untuk permainan dsb); 2 unggas yg serupa ayam, berkaki panjang, biasa hidup di tambak atau di rawa-rawa (tidak kuat terbang); Gallierex cinerea;
ayam-ayam·an n ayam-ayam

Keanekaragaman Ayam Lokal


Keberadaan ayam lokal sepertinya belum dapat tergantikan oleh yang lain. Baik dalam hal konsumsi maupun sebagai unggas hias (karena suara dan bulunya yang indah), ayam lokal ini memiliki penggemarnya tersendiri. Indonesia sebagai negara yang berkepulauan ternyata menyimpan kekayaan yang beraneka ragam. Salah satu kekayaan tersebut ialah keanekaragaman plasma nutfah ayam lokal yang tersebar di setiap wilayah di Indonesia.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dari Balai Penelitian Ternak, Ciawi, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 15 jenis plasma nutfah ayam lokal yang keberadaannya benar-benar asli Indonesia. Ke 15 jenis ayam tersebut di antaranya ialah ayam Cemani, ayam Kapas, ayam Pelung, ayam Arab Golden, ayam Merawang, ayam Arab Silver, ayam Kedu, ayam Kedu Putih, ayam Kate, ayam Gaok, ayam Sentul, ayam Wareng, ayam Tolaki, ayam Kalosi, ayam Nunukan. Namun, diluar itu masih banyak jenis ayam lokal yang dimiliki oleh negeri tercinta ini. Akankah keanekaragaman ayam lokal tersebut akan punah begitu saja atau bahkan diakui sebagai milik negara lain?
Keberadaan ayam lokal selama ini sekedar untuk konsumsi para hobiis yang sangat menyukai akan keindahan bulu atau bahkan keindahan suara yang dimiliki oleh ayam lokal tersebut. Seperti halnya ayam Ketawa yang berasal dari Kalimantan Timur dan ayam Pelung yang berasal dari Jawa Barat ini dibudidayakan karena keindahan suara. Namun, saat ini terlah banyak pula yang mengembangkan budidayanya untuk konsumsi daging dan telur dari ayam lokal tersebut.
     Ayam lokal mempunyai nilai gizi yang baik. Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khas dan nikmat dibanding dengan jenis ayam pedaging maupun petelur. Serat yang liat dan kenyal menjadi ciri utamaya. Bahkan setiap lebaran ayam kampung identik dengan berbagai macam masakan. Ayam lokal mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, di antaranya : Ayam lokal lebih tahan terhadap penyakit dan mudah menyesuaikan dengan cuaca di Indonesia. Selain itu pakan yang diperoleh pun mudah, bahkan bisa dipelihara ala kadarnya. Tujuan utama orang memelihara ayam kampung adalah untuk diambil telur, daging, dan untuk dikembangbiakkan.
     Mengingat preferensi konsumen ayam lokal yang sangat spesifik dan potensi genetik yang tidak mampu menyamai produktivitas ayam ras, maka tujuan pengembangan unggas lokal bukan untuk mengganti 100% produksi yang berasal dari ayam ras. Sehingga ayam lokal tidak bisa menggantikan ayam ras namun saling melengkapi untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Dengan kata lain, penyediaan dan permintaan dapat diseimbangkan dalam rangka menjaga kestabilan harga yang akhirnya dapat memberikan keuntungan yang memadai bagi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis ayam lokal.
     Unggas lokal akan lebih berperan dalam pembangunan peternakan di masa depan, khususnya dalam pemenuhan protein hewani. Kecenderungan peningkatan kontribusi daging unggas dari 20% (1970) menjadi 65% (2008) dan di antaranya 16,3% dari unggas lokal. Hal ini disebabkan semakin tingginya produksi daging unggas sejalan meningkatnya industri perunggasan nasional. Fakta empirik sensus pertanian BPS tahun 2003 bahwa 100% RTP yang memelihara unggas, 98,5% nya memelihara unggas lokal. Pola konsumsi masyarakat terus berubah ke arah pangan organik dan sehat.
     Pengembangan ayam lokal sampai saat ini masih terdapat banyak hambatan. Ketersediaan bibit yang belum mencukupi dari aspek kualitas dan kuantitas, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pakan lokal, kurangnya modal usaha dan terbatasnya akses kepada kelembagaan keuangan menjadikan usaha beternak ini tarik ulur. Tak hanya itu, tingkat kepemilikan yang masih di bawah skala ekonomis (<300 ekor induk/peternak), juga belum terbentuknya lembaga atau kelompok peternak yang merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.